Seni dan Budaya

PERANG TOMAT – TRADISI UNIK DI BANDUNG BARAT

photo by @galamedia

Menyambut bulan tertentu sambil melestarikan budaya bukanlah hal yang tidak mungkin dilakukan. Bagi warga Cikareumbi misalnya. Dalam rangka menyambut datangnya bulan Muharram, warga Kampung Cikareumbi, Desa Cikidang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat dengan sangat antusias menggelar serangkaian acara diadakan selama tiga hari berturut – turut. Kegiatan budaya ini lebih dikenal orang dengan budaya rempug tarung adu tomat atau Perang Tomat.

Kegiatan budaya perang tomat ini diawali pada tahun 2010 dimana banyak tomat busuk yang berserakan di jalanan. Para pedagang enggan menjual tomat –tomat hasil kebun mereka karena harga sedang anjlok. Dari sana lah tercetus ide untuk melakukan budaya perang tomat untuk memanfaatkan tomat – tomat busuk yang tidak terpakai. Budaya perang tomat ini diawali dengan saling melemparnya dua kubu yang terdiri dari 20 orang peserta. Masing – masing peserta menggunakan atribut berupa baju  pangsi berwarna hitam, lengkap dengan topeng dan tameng yang terbuat dari anyaman bambu. Menurut Masnanu Muda, seorang seniman dan budayawan sunda yang tinggal di Kabupaten Bandung Barat, budaya perang tomat ini memiliki filosofi sebagai ajang membuang sifat buruk yang ada dalam diri kita. Seperti yang telah disebutkan, para peserta mengenakan topeng yang artinya ada sifat buruk dalam dirinya dan pantas untuk dilempari dengan tomat busuk. Rempug tarung adu tomat atau Perang Tomat ini biasanya berlangsung selama 30 menit. Dan setelah peluit tanda budaya perang tomat berakhir, warga yang tadinya saling melempar tomat dengan serentak menghentikan perang tomat dan bersama – sama menari mengikuti alunan musik tradisional Sunda. Pada akhir acara, sisa – sisa tomat yang sudah berserakan di jalan dibersihkan dan dimanfaatkan untuk dibuat menjadi kompos, sehingga tidak ada dari sisa budaya perang tomat yang terbuang begitu saja.

Dikatakan oleh Masnanu, acara Perang Tomat ini merupakan acara puncak dari serangkaian kegiatan budaya. Biasanya pada hari pertama, warga Cikareumbi terlebih dahulu melakukan kegiatan ngaruat bumi di Hulu wotan Cai Legok Dasman yang dilanjutkan dengan Pantun Ruat dihari kedua, dan melakukan Hajat Buruan dan diakhiri dengan budaya Perang Tomat sebagai acara pamungkas. Hajat Buruan merupakan acara arak – arakan tumpeng dan hasil bumi yang diiringi musik tradisional dan mengelilingi kampung. Selain untuk melestarikan budaya yang ada, acara Perang Tomat ini pun memiliki tujuan sebagai promosi agrowisata dan budaya Cikareumbi untuk membuka peluang ekonomi daerah. Karena, dengan adanya Perang Tomat, bukan hanya warga sekitar yang datang, tetapi masyarakat dari luar daerah pun turut hadir untuk menyaksikan ajang tahunan tersebut.

Komentar Anda

PALING POPULER

To Top